Sabtu, 11 April 2015

Happy Ending

Ying terdiam, memandangi sebuah liontin cantik berhiaskan permata. Seketika pikirannya mengingat kejadian 8 bulan yang lalu.

Flashback

Ia berjalan menuju kedai Tok Aba.
“Hey, lama sekali. Ayo mulai taruhannya.” Kata BoboiBoy. 
“Eh,” Perkataan Ying terputus karena BoboiBoy sudah menjadi Halilintar dan menarik tangannya.

Merekapun sampai di lapangan. Setelah pemanasan dan melepas jam kuasa, mereka bersiap di ujung lapangan.

“Mulai!” Seru BoboiBoy. Mereka berlari kencang, berusaha untuk menjadi pemenang. Tiba tiba seekor tupai melintas dan secara tiba tiba Ying menghentikan langkahnya. 
“Aku menang!” Teriak BoboiBoy saat dia mencapai garis akhir lebih dulu. 
“Hah, seharusnya aku menang. dan kau akan menjadi pelayanku satu minggu.” Kata Ying. 
“Tapi aku yang menang. Jadi kau harus mengajariku matematika sampai aku benar-benar mengerti.” Balas BoboiBoy. Setelah kembali memakai jam kuasa, mereka kembali ke Kedai Kokotiam Tok Aba.

“Jadi, caranya seperti ini… lalu begini… dan… kemudian… Nah begitu caranya! Kamu paham?” Tanya Ying setelah mengajarkan BoboiBoy. “Lumayan.” Balas BoboiBoy. “Coba kuberikan soal.” Kata Ying. Iapun membuat 5 soal untuk BoboiBoy. Ia menunggu BoboiBoy selesai sambil meminum Special Hot Chocolate.  
“Sudah belum?” Tanya Ying yang mulai jenuh. “Sebentar… Nah, sudah!” Ujar BoboiBoy sambil memberikan kertas soalnya. Ying mengoreksi jawaban BoboiBoy dengan mencorat-coret di bawahnya.
“BoboiBoy, yang nomor tiga dan empat salah.” Kata Ying “Oh ya? Habis kalau yang begitu aku kurang mengerti.” Balas BoboiBoy. “Hah, baiklah, biar kuajari lagi.” Kata Ying.
Beeepp beeepp
HandPhone Ying bergetar menandakan ada panggilan. Iapun mengangkatnya.
“Halo? Ibu? Ada apa?” Tanya Ying. 
“Ying, tadi penyakit jantung nenekmu kambuh. Ibu sudah membawanya ke rumah sakit, tapi nenekmu tidak selamat. Dia sudah dipanggil. Kamu kemana saja? Ibu sudah menghubungi mu beberapa kali tetapi tidak ada jawaban” Kata ibunya mengabarkan. 
“Se.. Sekarang ibu dimana?” Tanya Ying dengan mata dengan air yang sudah menggenang. 
“Di makam dekat balai desa, cepatlah datang.” Jawab ibunya. Telepon diputus. 
“Tapi, ini belum selesai. Masih ada 15 soal lagi yang harus kita bahas”Cegah BoboiBoy sambil menarik tangan Ying. Ying melepas paksa tangannya dan berlari dengan sekuat tenaga. BoboiBoy mengikutinya.

Di makam,Ying mendekat ke kuburan neneknya. Semua yang hadir sudah menaburkan bunga dan akan pulang. Ying berlutut dan memegang nisan neneknya. Ia menangis.
“Sudahlah, biarkan dia pergi, dia akan lebih bahagia di sisiNya. Dia hanya akan tersiksa disini.” Kata ibunya. 
“Tapi, paling tidak, seharusnya, aku ada disini di saat, terakhirnya.” Kata Ying tersendat-sendat. Ibunya menepuk kepalanya dan pergi. 
“Kalau begitu, nanti pulanglah. Ibu duluan.” Ucap ibunya dan pergi. Tinggalah Ying dan BoboiBoy. Ying masih menangis dan BoboiBoy menunduk beberapa langkah di belakang Ying.
Ying bangkit beberapa menit setelahnya. Dia menghadap BoboiBoy.

“Maaf.” Kata BoboiBoy. 
“Hah, karena kamu, aku hanya bisa melihat makam ini! Kalau saja kau tak memaksaku, aku pasti bisa melihat nenekku di rumah sakit sebelumnya! Aku tidak melihat nenekku samasekali di saat terakhirnya, dan hanya dapat suruhan untuk membantumu belajar! Pemalas! Aku benci kamu!” Teriak Ying lalu berlari sangat cepat. 
“Seharusnya aku tak memaksanya. Ini salahku.” Batin BoboiBoy lalu pergi.

Sejak kejadian itu, Ying menjauhi BoboiBoy. Ia tak pernah lagi bicara pada BoboiBoy dan selalu menyendiri. Bahkan Yaya juga didiamkannya.

 “Ying, maaf.” Entah sudah seberapa kalinya BoboiBoy mengatakan itu. Ying mengabaikannya. Dia merapikan buku-bukunya, mengambil tasnya, dan pergi tanpa memberikan jawaban. 
“Ying, kau tak seharusnya begitu. Itu tak sepenuhnya salah BoboiBoy,mungkin ini takdirnya dan kau harus menerima ” Nasihat Yaya. 
“Ini bukan urusanmu, sebaiknya kau diam saja.” Balas Ying ketus dan menggunakan kuasanya untuk sampai di rumah. 
“Hah, dia benar-benar marah.” Kata BoboiBoy. 
“sebaiknya kau meminta maaf lagi besok.” Saran Yaya. 
“Kau tahu kan, sudah ribuan kali aku mengatakan maaf padanya, dia tak pernah menggubris. Melirik pun tidak.” Ucap BoboiBoy. 
“Sudahlah, kita pulang saja. Aku lapar.” Kata Gopal. 
“Hei, kau ini. Teman sedang sedih malah memikirkan makanan.” Tegur Yaya. Gopal hanya cengengesan. 
“Sudah, BoboiBoy. Dia pasti memaafkanmu.” Kata Yaya. 
“Tapi dia tak pernah semarah ini sebelumnya. Aku mengacaukan persahabatan kita.” Kata BoboiBoy. “Sudahlah. Sudah hampir malam. Kita pulang saja.” Sahut Fang. 

Keesokan harinya, BoboiBoy kembali meminta maaf pada Ying. 

“Maaf, Ying. Aku sangat merasa bersalah. Maaf.” “Maafkanlah, Ying.” Sahut Yaya. “Hei, kau piker bagaimana rasanya kehilangan? Kau jangan ikut campur, Yaya! Lagipula, kau tak pernah merasakannya, kan? Kalau kau tak tahu, tak usah ikut-ikutan!” Balas Ying. “Tapi,” Ucapan Yaya dipotong. “Berisik! Sebaiknya aku keluar!” Kata Ying.

Saat istirahat siang, Ying pergi ke kantin sebelum BoboiBoy akan meminta maaf lagi padanya. Di meja kantin, ada beberapa liontin oval keperakan berhiaskan permata. 
“Ini dijual? Ini kan kantin?” Tanya BoboiBoy pada Makcik Kevin. 
“Tak apa, hanya ingin jual saja.” Jawab Makcik Kevin. 
“Mau beli? Dua puluh ringgit.” Lanjut Makcik Kevin. 
“Bisa kurang?” Tanya BoboiBoy. 
“Lima belas?” Tanya BoboiBoy. 
“Delapan belas.” Jawab Makcik Kevin. 
“Baiklah, aku akan bayar besok. Tapi kuambil dulu, ya.” Kata BoboiBoy. 
“Baiklah.” Jawab Makcik Kevin sambil mencatatnya di sebuah buku. 
“Terima kasih.” Kata BoboiBoy sambil menjauh dengan liontin di tangannya. Ia menuju meja yang ditempati Ying.
“Maaf Ying.” Kata BoboiBoy sambil menaruh liontin itu di meja Ying. Ying membuang muka. 
“Aku akan menjadi pelayanmu satu hari penuh.” Tambah BoboiBoy. 
“Satu bulan.” Kata Ying. 
“Seminggu.” Kata BoboiBoy. 
“Dua minggu.” Ujar Ying. “Eh, baiklah.
” BoboiBoy menerimanya. Ying tersenyum dan mengambil liontin itu. 
“Terima kasih.” Kata Ying. BoboiBoy tersenyum. 
“Wow, sudah baikan rupanya.” Kata Yaya yang sekonyong-konyong sudah disitu. Ying tersenyum. Fang dan Gopal juga datang, dan mereka makan bersama.
“Lama sekali, ya kita tidak makan bersama begini!”
“Begitulah, ternyata kau rindu, ya, Ying.”

Flashback end

Ying tertawa kecil. Sebetulnya, ia kasihan dengan BoboiBoy. Sudah harus mengeluarkan uang, ia harus menjadi pelayan.
“Hei, Ying. Kau tertawa begitu. Ayo pulang!” Panggil BoboiBoy dari luar kelas. Ying menghampirinya. 
“Kapan ya, makcik kantin menjual liontin?” Tanya Ying. 
“Sebaiknya tidak perlu. Kau akan marah dan aku diperbudak.” Kata BoboiBoy. Yaya, Gopal, dan Fang yang ikut dengar hanya tersenyum. Persahabatan memang menyenangkan dan indah.
end
-----------------------------------



Silahkan comment jika ada kritik dan saran ^^ jangan menjadi silent riders ya '-')b Thankyou