Ying terdiam, memandangi sebuah liontin cantik berhiaskan
permata. Seketika pikirannya mengingat kejadian 8 bulan yang lalu.
Flashback
Ia berjalan menuju kedai Tok Aba.
“Hey, lama sekali. Ayo mulai taruhannya.” Kata
BoboiBoy.
“Eh,” Perkataan Ying terputus karena BoboiBoy sudah menjadi
Halilintar dan menarik tangannya.
Merekapun sampai di lapangan. Setelah pemanasan dan melepas
jam kuasa, mereka bersiap di ujung lapangan.
“Mulai!” Seru BoboiBoy. Mereka berlari kencang, berusaha
untuk menjadi pemenang. Tiba tiba seekor tupai melintas dan secara tiba tiba
Ying menghentikan langkahnya.
“Aku menang!” Teriak BoboiBoy saat dia mencapai garis akhir
lebih dulu.
“Hah, seharusnya aku menang. dan kau akan menjadi pelayanku
satu minggu.” Kata Ying.
“Tapi aku yang menang. Jadi kau harus mengajariku matematika
sampai aku benar-benar mengerti.” Balas BoboiBoy. Setelah kembali memakai jam
kuasa, mereka kembali ke Kedai Kokotiam Tok Aba.
“Jadi, caranya seperti ini… lalu begini… dan… kemudian… Nah
begitu caranya! Kamu paham?” Tanya Ying setelah mengajarkan BoboiBoy.
“Lumayan.” Balas BoboiBoy. “Coba kuberikan soal.” Kata Ying. Iapun membuat 5
soal untuk BoboiBoy. Ia menunggu BoboiBoy selesai sambil meminum Special Hot
Chocolate.
“Sudah belum?” Tanya Ying yang mulai jenuh. “Sebentar… Nah,
sudah!” Ujar BoboiBoy sambil memberikan kertas soalnya. Ying mengoreksi jawaban
BoboiBoy dengan mencorat-coret di bawahnya.
“BoboiBoy, yang nomor tiga dan empat salah.” Kata Ying “Oh
ya? Habis kalau yang begitu aku kurang mengerti.” Balas BoboiBoy. “Hah,
baiklah, biar kuajari lagi.” Kata Ying.
Beeepp beeepp
HandPhone Ying bergetar menandakan ada panggilan. Iapun
mengangkatnya.
“Halo? Ibu? Ada apa?” Tanya Ying.
“Ying, tadi penyakit jantung nenekmu kambuh. Ibu sudah
membawanya ke rumah sakit, tapi nenekmu tidak selamat. Dia sudah dipanggil. Kamu
kemana saja? Ibu sudah menghubungi mu beberapa kali tetapi tidak ada jawaban”
Kata ibunya mengabarkan.
“Se.. Sekarang ibu dimana?” Tanya Ying dengan mata
dengan air yang sudah menggenang.
“Di makam dekat balai desa, cepatlah datang.” Jawab
ibunya. Telepon diputus.
“Tapi, ini belum selesai. Masih ada 15 soal lagi yang harus
kita bahas”Cegah BoboiBoy sambil menarik tangan Ying. Ying melepas paksa
tangannya dan berlari dengan sekuat tenaga. BoboiBoy mengikutinya.
Di makam,Ying mendekat ke kuburan neneknya. Semua yang hadir
sudah menaburkan bunga dan akan pulang. Ying berlutut dan memegang nisan
neneknya. Ia menangis.
“Sudahlah, biarkan dia pergi, dia akan lebih bahagia di
sisiNya. Dia hanya akan tersiksa disini.” Kata ibunya.
“Tapi, paling tidak, seharusnya, aku ada disini di saat,
terakhirnya.” Kata Ying tersendat-sendat. Ibunya menepuk kepalanya dan
pergi.
“Kalau begitu, nanti pulanglah. Ibu duluan.” Ucap ibunya dan
pergi. Tinggalah Ying dan BoboiBoy. Ying masih menangis dan BoboiBoy menunduk
beberapa langkah di belakang Ying.
Ying bangkit beberapa menit setelahnya. Dia menghadap
BoboiBoy.
“Maaf.” Kata BoboiBoy.
“Hah, karena kamu, aku hanya bisa melihat makam ini!
Kalau saja kau tak memaksaku, aku pasti bisa melihat nenekku di rumah sakit
sebelumnya! Aku tidak melihat nenekku samasekali di saat terakhirnya, dan hanya
dapat suruhan untuk membantumu belajar! Pemalas! Aku benci kamu!” Teriak Ying
lalu berlari sangat cepat.
“Seharusnya aku tak memaksanya. Ini salahku.” Batin BoboiBoy
lalu pergi.
Sejak kejadian itu, Ying menjauhi BoboiBoy. Ia tak pernah
lagi bicara pada BoboiBoy dan selalu menyendiri. Bahkan Yaya juga didiamkannya.
“Ying, maaf.” Entah sudah seberapa kalinya BoboiBoy
mengatakan itu. Ying mengabaikannya. Dia merapikan buku-bukunya, mengambil
tasnya, dan pergi tanpa memberikan jawaban.
“Ying, kau tak seharusnya begitu. Itu tak sepenuhnya salah
BoboiBoy,mungkin ini takdirnya dan kau harus menerima ” Nasihat Yaya.
“Ini bukan urusanmu, sebaiknya kau diam saja.” Balas Ying
ketus dan menggunakan kuasanya untuk sampai di rumah.
“Hah, dia benar-benar marah.” Kata BoboiBoy.
“sebaiknya kau meminta maaf lagi besok.” Saran Yaya.
“Kau tahu kan, sudah ribuan kali aku mengatakan maaf
padanya, dia tak pernah menggubris. Melirik pun tidak.” Ucap BoboiBoy.
“Sudahlah, kita pulang saja. Aku lapar.” Kata Gopal.
“Hei, kau ini. Teman sedang sedih malah memikirkan makanan.”
Tegur Yaya. Gopal hanya cengengesan.
“Sudah, BoboiBoy. Dia pasti memaafkanmu.” Kata Yaya.
“Tapi dia tak pernah semarah ini sebelumnya. Aku mengacaukan
persahabatan kita.” Kata BoboiBoy. “Sudahlah. Sudah hampir malam. Kita pulang
saja.” Sahut Fang.
Keesokan harinya, BoboiBoy kembali meminta maaf pada
Ying.
“Maaf, Ying. Aku sangat merasa bersalah. Maaf.” “Maafkanlah,
Ying.” Sahut Yaya. “Hei, kau piker bagaimana rasanya kehilangan? Kau jangan
ikut campur, Yaya! Lagipula, kau tak pernah merasakannya, kan? Kalau kau tak
tahu, tak usah ikut-ikutan!” Balas Ying. “Tapi,” Ucapan Yaya dipotong.
“Berisik! Sebaiknya aku keluar!” Kata Ying.
Saat istirahat siang, Ying pergi ke kantin sebelum BoboiBoy
akan meminta maaf lagi padanya. Di meja kantin, ada beberapa liontin oval
keperakan berhiaskan permata.
“Ini dijual? Ini kan kantin?” Tanya BoboiBoy pada Makcik
Kevin.
“Tak apa, hanya ingin jual saja.” Jawab Makcik Kevin.
“Mau beli? Dua puluh ringgit.” Lanjut Makcik Kevin.
“Bisa kurang?” Tanya BoboiBoy.
“Lima belas?” Tanya BoboiBoy.
“Delapan belas.” Jawab Makcik Kevin.
“Baiklah, aku akan bayar besok. Tapi kuambil dulu, ya.” Kata
BoboiBoy.
“Baiklah.” Jawab Makcik Kevin sambil mencatatnya di sebuah
buku.
“Terima kasih.” Kata BoboiBoy sambil menjauh dengan liontin
di tangannya. Ia menuju meja yang ditempati Ying.
“Maaf Ying.” Kata BoboiBoy sambil menaruh liontin itu di
meja Ying. Ying membuang muka.
“Aku akan menjadi pelayanmu satu hari penuh.” Tambah BoboiBoy.
“Satu bulan.” Kata Ying.
“Seminggu.” Kata BoboiBoy.
“Dua minggu.” Ujar Ying. “Eh, baiklah.
” BoboiBoy menerimanya. Ying tersenyum dan mengambil liontin
itu.
“Terima kasih.” Kata Ying. BoboiBoy tersenyum.
“Wow, sudah baikan rupanya.” Kata Yaya yang
sekonyong-konyong sudah disitu. Ying tersenyum. Fang dan Gopal juga datang, dan
mereka makan bersama.
“Lama sekali, ya kita tidak makan bersama begini!”
“Begitulah, ternyata kau rindu, ya, Ying.”
Flashback end
Ying tertawa kecil. Sebetulnya, ia kasihan dengan BoboiBoy.
Sudah harus mengeluarkan uang, ia harus menjadi pelayan.
“Hei, Ying. Kau tertawa begitu. Ayo pulang!” Panggil
BoboiBoy dari luar kelas. Ying menghampirinya.
“Kapan ya, makcik kantin menjual liontin?” Tanya Ying.
“Sebaiknya tidak perlu. Kau akan marah dan aku diperbudak.”
Kata BoboiBoy. Yaya, Gopal, dan Fang yang ikut dengar hanya tersenyum.
Persahabatan memang menyenangkan dan indah.
end
-----------------------------------
Silahkan comment jika ada kritik dan saran ^^ jangan menjadi
silent riders ya '-')b Thankyou